DASAR HUKUM MURABAHAH DAN WAKALAH

Dasar Hukum Murabahah

DASAR HUKUM MURABAHAH DAN WAKALAH

a. Surat Al-Baqarah Ayat 275

Artinya: “Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah : 275)13

b. Qs. Al-Baqarah: 275

Artinya : “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

c. Surat An-Nisa ayat 29

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa : 29)

d. Al-Hadits

a. Hadits Nabi dari Nasa‟i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad bersabda, “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberi sanksi kepadanya”.
b. Hadits Nabi riwayat Abd Al-Raziq dari Zaid bin Aslam, Rasulullah Saw ditanya tentang Urbun (uang muka) dalam jual beli, maka beliau menghalalkannya.

e. Fatwa Dewan Syariah Nasional Tentang Ketentuan Murabahah 

Fatwa DSN No.04/DSN-MUI/IV/2000, telah mengatur pembiayaan murabahah, dalam fatwa tersebut disebutkan ketentuan sebagai berikut:
  • a) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
  • b) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariat Islam.
  • c) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
  • d) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
  • e) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jka pembelian dilakukan secara utang. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
  • f) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
  • g) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
  • h) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang kepada pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik bank.

Aturan yang dikenakan kepada nasabah dalam murabahah ini dalam fatwa adalah sebagai berikut:
  • a) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian satu barang atau asset kepada bank.
  • b) Jika bank menerima permohonan tersebut ia harus membeli terlebih dahulu asset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
  • c) Bank kemudian menawarkan asset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
  • d) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
  • e) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
  • f) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
  • g) Jika uang muka memakai kontrak „urbun sebagai alternative dari uang muka, maka:  jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga; atau  jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.

Dasar Hukum Wakalah


Dasar hukum Islam yang dijadikan acuan akad wakalah bersumber pada dalil-dalil al-Quran dan hadits, antaranya:

1. Dalil al-Quran

a) Q.S. Al-Kahfi: 19

Artinya:“Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. (Q.S. Al-Kahfi: 19).

Ayat ini merujuk pada diperbolehkannya konsep wakalah. Dalam ayat ini terdapat lafal ”Fab‟atsu ahadakum biwariqikum” yang bermakna “maka suruhlah salah seorang atas kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini.”

Lafal ini yang dijadikan sebagai istidlal atas keabsahan praktik wakalah. Dalam ayat itu diceritakan, salah satu dari mereka menjadi wakil untuk membeli makanan yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka atas rasa lapar dan dahaga.

b) Q. S. Yusuf: 55

Artinya: “Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (Q.S. Yusuf: 55)

Ayat ini merupakan dalil lain diperbolehkannya akad ayat ini, yaitu selain mangakui keabsahan praktik wakalah, juga mengindikasikan dua sikap mendasar yang harus ada dalam konsep wakalah. Sifat tersebut memiliki pengetahuan dan kompetensi atas pekerjaan yang didelegasikan.

2. Dalil Hadits

Artinya : “Bahwasannya Rasulullah SAW mewakilkan kepada Abu Rafi‟ dan seorang Anshar untuk mewakilinya mengawini Maimunah binti Harits”. (HR. Malik).

Artinya : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW untuk menagih hutang kepada beliau dengan cara kasar, sehingga para sahabat berniat untuk “menanganinya”. Beliau bersabda, „biarkan ia, sebab pemilik hak berhak untuk berbicara; lalu sabdanya, „Berikanlah (bayarkanlah) kepada orang ini unta umur setahun seperti untanya (yang dihutang itu)‟. Mereka menjawab, „kami tidak mendapatkannya kecuali yang lebih tua.‟

Rasulullah kemudian bersabda: „Berikanlah kepada-Nya. Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik di dalam membayar.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel