RUKUN DAN SYARAT ZAKAT

1. Rukun Zakat 

RUKUN DAN SYARAT ZAKAT

Unsur – unsur yang terdapat dalam zakat yaitu; orang yang berzakat, harta yang dizakatkan dan orang yang menerima zakat.(15)

Rukun zakat ialah mengeluarkan sebagian dari nishab (harta), dengan melepas kepemilikan terhadapnya, menjadikannya sebagai milik orang fakir, dan menyerahkan kepadanya atau harta tersebut diserahkan kepada wakilnya, yaitu imam atau petugas yang memungut zakat.16 

2. Syarat wajib zakat 

Masing – masing harta yang wajib dizakati, mempunyai spesifikasi yang berbeda dalam syaratnya. Hasil tambang misalnya, syarat zakatnya berbeda dengan hasil perniagaan. Jika dalam zakat perniagaan ditentukan haul dan nishabnya, akan tetapi dalam usaha tambang tidak ada ketentuan haul dan nishabnya, jadi begitu mendapatkan hasil harus membayar zakat. Meski demikian, menurut kesepakatan ulama, syarat sah zakat sebagai berikut: 

a. Merdeka. 

Menurut kesepakatan ulama, zakat tidak wajib atas hamba sahaya karena hamba sahaya tidak mempunyai hak milik. Tuannyalah yang memiliki apa yang ditangan hambanya.17 

b. Beragama Islam. 

Orang bukan Islam, meskipun mempunyai binatang tidak wajib zakat. Menurut mazhab Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi’I yaitu Islam adalah syarat sah yang mewajibkan, maka bila orang kafir tidak sah. 

Karena zakat tidak sah kecuali dengan niat, dan niat orang kafir itu tidak sah.(18)

c. Berfikir, sehat, dan dewasa. 

Karena itu orang yang tidak dewasa tidak mempunyai tanggung jawab. Menurut pendapat Imam Hanafi dan Madzhab Immamiyah berpendapat bahwa harta orang gila dan anak-anak tidak wajib dizakati.(19) 

d. Kepemilikan sempurna. 

Kepemilikan sempurna itu artinya harta itu dibawah kontrol dan kekuasaan orang yang wajib zakat atau berada ditangannya. Tidak bersangkut didalamnya hak orang lain secara penuh dapat bertindak hukum dan menikmati harta itu.(20)

e. Mencapai nishab. 

Maksudnya ialah nishab yang ditentukan oleh syara’ sebagai tanda kayanya seseorang dan kadar-kadar berikut yang mewajibkannya zakat. Penjelasan mengenai nishab-nishab yang ditentukan oleh syara’ akan dijelaskan dalam pembahasan mengenai harta-harta yang wajib dizakati.(21)

f. Mencapai haul. 

Kepemilikan harta telah mencapai setahun, menurut hitungan tahun qamariyah. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi saw.

“Tidak ada zakat dalam suatu harta sampai umur kepemilikannya mencapai satu tahun”(22)  

g. Harta itu berkembang. 

Artinya, harta itu sengaja dikembangkan atau memiliki potensi untuk berkembang dalam rangka mendapat keuntungan.23Seperti melalui kegiatan usaha, perdagangan, melalui pembelian saham, atau ditabungkan, baik dilakukan sendiri maupun bersama orang atau pihak lain. harta yang tidak berkembang atau tidak berpotensi untuk berkembang, maka tidak dikenakan zakat.(24)

3. Syarat sah zakat. 

a. Niat. 

Para Fuqaha sepakat bahwa niat merupakan syarat pelaksanaan zakat. Pendapat ini berdasarkan sabda Nabi saw berikut: 

“Segala amalan harus didasari dengan niat” 

Pelaksanaan zakat termasuk salah satu amalan. Ia merupakan salah satu ibadah seperti halnya salat. Oleh karena itu, ia memerlukan niat untuk membedakan antara ibadah yang fardhu dan nafilah.(26)

b. Tamlik (memindahkan kepemilikan harta kepada penerimanya). 

Tamlik menjadi syarat sahnya pelaksanaan zakat, yakni harta zakat diberikan kepada mustahiq. Dengan demikian seseorang tidak boleh memberikan makan (kepada mustahiq), kecuali dengan jalan tamlik. (27)

__________________________________
(15) Amir Syarifuddin, Garis – Garis Besar Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2003, hlm. 40. (16) Wahbah Al-Zuhayly, Op. Cit, hlm. 97. (17) Ibid., hlm 98. (18) Abdur Rahman Al-Jazairi, Fiqh ‘Ala Mazhab Al Arba’ah, Mesir: Al Kubro, t. th, hlm. 590-591. (19) M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, terj Masykur AB, Afif Muhammad, Jakarta: Lentera, 2001, hlm. 177. (20) Abdur Rahman Al-Jazairi, Op. Cit., hlm. 593. (21) Wahbah Az-Zuhaily, Op. Cit., hlm 102. (22) Ibid., hlm. 106. (23) M. Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam, Jakarta: UI Press, 1988, hlm. 41. (24) Didin Hafinuddin, Op. Cit, hlm. 22. (25) Imam Bukhari, Op. Cit, hlm. 24. (26) Wahbah Al-Zuhayly, Op. Cit., hlm. 115. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel