ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

Orang-orang yang Berhak Menerima Zakat. Bicara sistem pendayagunaan zakat berarti membicarakan beberapa usaha atau kegiatan yang saling berkaitan dalam menciptakan tujuan tertentu dari penaggunaan hasil zakat secara baik, tepat dan terarah sesuai dengan tujuan zakat itu disyariatkan. Dalam pendekatan fikih, dasar pendayagunaan zakat umumnya didasarkan kepada Q.S. At- taubah ayat 60 sebagai berikut:(51)

ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu yang dijadikan ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S At- Taubah: 60).(52)

Ayat diatas menjelaskan tentang peruntukan kepada siapa zakat itu diberikan. Para ahli tafsir menguraikn kedudukan zakat tersebut dalam uraian yang beragam, baik terhadap kuantitas, kualitas, dan prioritas. Diantara uraian tersebut secara singkat adalah sebagai berikut:53 

1. Fakir (Al-Fuqara’)

Yaitu orang yang tidak mempunyai harta dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri serta keluarganya seperti makan, minum, sandang dan perumahan. Dalam hadits disebutkan: 

“Harta yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka, diserahkan kepada orang-orang miskin diantara mereka.”(HR. AlBukhari).(54) 

2. Miskin 

Miskin ialah orang yang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak dapat dipakai untuk memenuhi hajat hidupnya.(55)

Menurut imam Syafi’i, imam Hambali, imam Malik yang disebut miskin ialah yang mempunyai harta atau penghasilan layak dalam memenuhi keperluannya dan orang yang menjadi tanggungannya, tapi tak semuanya tercukupi.(56)

3. ‘Amilin (panitia zakat/ pengurus zakat) 

Amil yaitu orang yang ditunjuk oleh penguasa yang sah untuk mengurus zakat, baik mengumpulkan, memelihara, membagi dan mendayagunakannya serta petugas lain yang ada hubungannya dengan pengurusan zakat.(57)

Seorang amil hendaknya memenuhi syarat karena merekalah berhubungan pengelolaan zakat agar zakat sesuai dengan tujuannya, syarat-syarat amil yaitu:(58)
  1. Seorang muslim, seorang amil hendaknya seorang muslim karena zakat adalah urusan orang muslim. Akan tetapi, menurut Yusuf Qardhawi urusan tersebut dapat dikecualikan tugas yang tidak berkaitan dalam pemungutan, pembagian. Seperti penjagaan gudang dan sopir.(59)
  2. Mukallaf, yaitu orang dewasa yang sehat pikirannya. 
  3. Jujur (dapat memegang amanah).
  4. Memahami hukum-hukum zakat dan kemampuan untuk melaksanakan tugas.
  5. Laki-laki.Merdeka. 

4. Muallaf (yang di bujuk hatinya) 

Yaitu, orang Islam yang masih lemah imannya, namun yang mempunyai pendirian kuat ditengah keluarganya (yang masih kafir), sehingga disunnahkan untuk diberikan zakat agar memperteguh hatinya supaya dapat menghilangkan keragu-raguan. Bahkan diperbolehkan mengambil bagian dari zakat untuk diberikan kepada orang kafir dan keluarganya yang sungguh- sungguh ingin masuk Islam. Yang demikian merupakan salah satu jalan dakwah kepada Islam. (60)

5. Riqab. 

Secara harfiah, riqab artinya bentuk dari budak. Dewasa ini, manusia dengan status budak belian seperti ini sudah tidak ada. Akan tetapi, jika menengok pada makna yang lebih dalam lagi, riqab secara jelas menunjukkan pada kelompok manusia yang tertindas dan tereksploitasi oleh manusia lain, baik secara personal maupun struktural. Dengan kata lain, berbeda dengan istilah fakir miskin yang lebih merujuk pada manusia yang menderita secara sosial ekonomi, maka riqab merujuk pada orang atau masyarakat yang menderita secara budaya dan terutama secara politik. Jika persoalan yang dihadapi fakir miskin lebih pada “bagaimana mempertahankan kelangsungan hidup?”, persoalan pokok yang dihadapi riqab adalah bagaimana seseorang atau masyarakat dalam konteks kolektif bisa mengatur, memilih, dan menentukan arah dan cara hidup mereka sendiri secara merdeka.(61)

Dalam pengertian ini, dana zakat untuk kategori riqab berarti sama dengan dana untuk usaha pemerdekaan orang atau kelompok yang sedang dalam keadaan tertindas dan kehilangan haknya untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Dalam konteks individual dana ini dapat digunakan untuk mengentaskan buruh- buruh rendahan dan buruh kasar dari belenggu majikan yang menjeratnya, serta mengusahakan pembebasan orang-orang tertentu yang dihukum atau dipenjara hanya lanntaran menggunakan hak dasarnya untuk berpendapat atau memilih.(62)

6. Ghorim. 

Gharim adalah orang-orang yang dililit hutang dan tidak dapat melepaskan dirinya dari jeratan hutang itu kecuali dengan bantuan dari luar.(63)

Bagian zakat hanya mereka yang berhutang untuk kemaslahatan diri, bila mereka sendiri telah fakir atau telah jatuh miskin tak sanggup lagi membayarnya. Sedangkan jika berhutang karena kemaslahatan umum, maka ia boleh minta dari bagian ini untuk membayar hutangnya meskipun ia orang kaya.(64)

7. Fi Sabilillah. 

Yaitu, amal perbuatan yang diridhai oleh Allah Swt dan mencakup kepentingan orang banyak seperti pembangunan masjid, madrasah, rumah sakit, dan sebagainya. Sebagaimana zakat itu boleh dibayarkan untuk memperbaiki dan mengamankan perjalanan ibadah haji.(65)

8. Ibnu Sabil. 

Para fuqaha selama ini mengartikan ibnu sabil (anak jalanan) dengan musafir yang kehabisan bekal. Pengertian ini benar dan masih relevan, tetapi pengertian ini masih sempit. Lahir dari konteks sosial tertentu, pengertian ini menunjuk pada makna yang lebih sempit dari daripada makna yang sebenarnya. Dewasa ini, ketika keadaan masyarakat sudah menjadi semakin kompleks, maka kebutuhan untuk menengok kembali pada pengertian awal Ibnu Sabil sebelum dibatasi dengan pengertian-pengertian tertentu menjadi sangat perlu. (66)

Anak jalanan, sebagaimana yang lazim kita pahami, mengacu pada pengertian orang-orang yang tengah berada dalam keadaan tunawisma, atau terpental dari tempat tinggalnya semula. Bukan lantaran kemiskinan yang diderita, melainkan lebih disebabkan oleh hal-hal yang bersifat “kecelakaan”. 

Pengertian ini tentu lebih luas dan relevan daripada mengacu pada “pelancong yang kekurangan bekal”, seperti yang kita terima selama ini. Oleh karena itu, dalam konteks pendayagunaan dana zakat untuk sektor Ibnu Sabil ini dapat kita alokasikan, bukan hanya untuk keperluan musafir yang kehabisan bekal, melainkan juga untuk keperluan para pengungsi, baik karena alasan banjir, tanah longsor, gunung meletus, angin topan, kebakaran, tsunami, dan sebagainya.(67)

Karena orang- orang yang sedang tertimpa musibah membutuhkan dana yang lebih untuk mencukupi kebutuhan hidup, mengingat sebagian harta atau bahkan semua yang mereka miliki telah hilang terkena bencana. Dalam keadaan seperti inilah pertolongan orang- orang yang lebih mampu dibutuhkan oleh para korban bencana.
__________________________________________
(51) Ilyas Supena dan Darmuin, Manajemen Zakat, Semarang: Walisongo Press, 2009, hlm.31. (52) Fahd Ibn ‘Abd ‘Aziz Al Sa’ud, Op. Cit., hlm. 288. (53) Ilyas Supena dan Darmuin, Op. Cit., hlm. 31. 
(54) Syaikh kamil Muhammad ‘Uwaidah, Op. Cit., hlm. 309. (55) Wahbah Az-Zuhayly, Op.Cit., hlm. 281. (56) Yusuf Qardhawi, Op.Cit. hlm. 513. (57) Amir Syarifuddin, Op. Cit., hlm. 49. (58) Ed. Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT. Intermasa, 1997, hlm. 1996. (59) Yusuf Qardhawi. Op. Cit., hlm. 551. (60) Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Op. Cit., hlm 310.  (61) Ilyas Supena dan Darmuin, Op. Cit., hlm. 37-38. (62) Ibid., hlm. 37-38. (63) Amir Syarifuddin, Op. Cit., hlm. 50.  (64) T.M. Hasby Ash Shiddieqy, Op.Cit., hlm. 185. (65) Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah., Op. Cit., hlm 311. (66) Ilyas Supena dan Darmuin, Op. Cit., hlm.41-42. (67) Ibid., hlm. 41-42.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel