Mutiara Air Laut Indonesia Jadi Rebutan Dunia

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan pengembangan mutiara air laut Indonesia. Sebab, komoditas ini merupakan salah satu kekayaan komoditas dari sektor kelautan yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan bisnis yang menjanjikan.

Mutiara Air Laut Indonesia
@Moral Trail doc. foto; Pencari mutiara memeriksa di bagian dalam kerang saat mencari batu mutiara.
“Indonesia itu salah satu produsen mutiara air laut terbesar di dunia. Dalam kurun waktu 2010 hingga 2015 nilai harga South Sea Pearl (mutiara laut selatan) dari Indonesia meningkat hingga 80 persen,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (8/2/2017).

Menurut dia, permintaan perhiasan mutiara dari waktu ke waktu semakin meningkat baik dari domestik maupun dari mancanegara. Harganya pun semakin mahal dan menjadi barang mewah serta lebih disukai daripada emas, terutama di beberapa negara seperti Jepang, China, Korea dan juga di Eropa.

“Saat ini banyak mutiara yang kita hasilkan itu dikirim ke Jepang yang kemudian dikirimkan lagi oleh mereka ke China, Amerika dan negara-negara lainnya. Ironisnya, Indonesia belum memiliki bargaining power (daya tawar) sebagai produsen, karena sistem distribusinya dikelola dan dikendalikan oleh pedagang mutiara Jepang,” ungkap dia.

Ke depan, kata dia, kondisi demikian harus dicarikan solusinya. Indonesia sebagai produsen harus bisa memiliki kekuatan untuk mengatur harga dan mengatur pasokan.

“Hampir semua jenis mutiara dihasilkan oleh kita. Bila pemerintah lebih berpihak, mungkin kita bisa lebih meningkatkan porsi pasokan untuk kebutuhan dunia dan membuat nilai tambah di sini. Indeks atau standar harga mutiara juga diperlukan seperti halnya emas atau berlian yang sudah memiliki standar harga,” kata dia.

Yugi menerangkan, mutiara bernilai mahal karena selain keindahannya juga karena proses pembudiayaannya yang juga panjang. Mulai dari pembenihan sampai bisa dipanen pertama kali membutuhkan waktu hingga empat tahun. Berdasarkan dari data Jewelry News Asia, dalam kurun waktu 2013-2015 Indonesia telah menghasilkan 5,4 ton hingga 7,5 ton mutiara.

Oleh sebab itu menurut dia keberpihakan pemerintah terhadap komoditas mutiara sangat diperlukan, terutama terkait pengembangan teknologi dalam budidaya kerang mutiara. Saat ini, pembudidaya juga memiliki hambatan dengan prosesnya yang lama, kompleks dan padat modal sehingga perlu langkah-langkah yang efisien untuk diterapkan dalam pengembangan bisnis mutiara.

“Kita juga sangat mengharapkan agar para pembudidaya mutiara nasional ini bisa bertahan. Memang saat ini sudah dilakukan secara terintegrasi oleh perusahaan besar, misalnya investor dari Australia. Namun, setelah panen di Indonesia semua harus dikirimkan ke Australia untuk diolah lagi di sana sehingga kita tidak menerima hasil dari nilai tambahnya,” jelas Yugi.

Seperti diketahui, mutiara jenis kerang Pinctada Maxima atau di pasar internasional dikenal dengan Mutiara Laut Selatan (MLS) atau south sea pearl dibudidayakan di Indonesia terutama banyak dilakukan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Maluku. Selain itu juga dibudidayakan di Lampung, Papua, Sulawesi, dan Flores. ***liputan6**

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel