Alasan Raja Salman ke Indonesia membawa 10 Menteri Strategis

Jakarta - Rencana kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin AbdulazizAl Saud ke Indonesia pada 1 Maret 2017 sudah menjadi perhatian rakyat Indonesia. Tidak hanya perlengkapannya yang sudah membuat gempar bandara Halim Perdanakusuma dan bandara Ngurai Rai, namun jumlah rombongan super besar mencapai 1.500 orang menyiratkan pentingnya kunjungan tersebut.

Raja Salman membawa 10 Menteri Strategis
@Moral Trail doc. foto; Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud.
Tidak hanya itu, kunjungan Raja Salman disertai dengan 10 menteri strategis dan 25 pangeran adalah indikasi keseriusan pemerintah Arab Saudi.

Sebetulnya, kepentingan Saudi Arabia di Indonesia secara ekonomi tidak bernilai bagi Saudi. Selama ini, ikatan emosional terjadi karena Indonesia mayoritas dihuni pemeluk Islam, mayoritas jumlah jamaah haji dan umrah setiap tahun dan karena ada TKI. Kuota haji normal sebelum dipangkas adalah 211 ribu jamaah haji per tahun sementara jumlah jamaah umrah asal Indonesia bahkan tiga kali lipat jumlah jamaah haji.

Kenangan ketika masih menjadi penghasil minyak juga sudah tiada. Menjadi anggota organisasi OPEC sudah dilepaskan Indonesia sejak 2008 yang berlaku efektif sejak 2009. Pada 2016, Indonesia kembali masuk menjadi anggota dan pada tahun yang sama menyatakan temporary suspend karena perintah untuk mengurangi 5 persen produksi. Pada saat ini Saudi adalah pemimpin produksi minyak dalam OPEC terbesar dengan kapasitas 12,5 juta barel per hari.

Keterlibatan Saudi Arabia di Indonesia mulai terbuka sejak tahun 2016 ketika salah satu BUMN-nya Saudi Aramco menjadi peserta tender proyek upgrading kilang minyak yang dilakukan Pertamina. Dalam proyek upgrading enam kilang minyak bernilai USD 25 miliar itu, Saudi Aramco memenangkan proyek kilang Cilacap dengan nilai kontrak USD 5 miliar (Rp 68 triliun).

Setelah pada 23 Mei 2016 ditanda-tangani basic engineering dengan Pertamina dengan Saudi Aramco, maka pada 26 November 2015 proyek dimulai secara definitif. Jadwal pertama adalah menyelesaikan terms upgrading refinery development master plan (RDMP) pada awal 2017. Berikutnya adalah studi basic engineering design (BED) dan kemudian pada tahun 2018 menyelesaikan front-end engineering design (FEED). Konsruksi fisik dimulai paling lambat pada 2019 dengan harapan pada 2021 sudah produksi.

Saat proyek dengan Saudi Aramco selesai, maka kapasitas kilang Cilacap ditargetkan menjadi 400 ribu bpd dari 348 ribu bph saat ini. Pembagian sahamnya 55 persen Pertamina dan 45 persen Saudi Aramco. Di kilang Cilacap ini BBM yang dihasilkan adalah standar euro 5 atau menjadi kilang paling modern di Asia Tenggara.***republika**

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel