Ternyata Pengusaha Mendominasi Pengidap HIV/AIDS di Medan

MEDAN - Dinas Kesehatan Kota Medan mencatat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sejak 2006 hingga 2016, jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus and Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) yang terdapat di Kota Medan mencapai 5.360 orang.

Pengusaha Mendominasi Pengidap HIV/AIDS

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.406 adalah penderita AIDS dan 3.954 lainnya merupakan penderita HIV.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Usma Polita mengungkapkan, di antara jumlah itu, kalangan pengusaha tercatat sebagai penderita tertinggi dari sisi pekerjaan.

Totalnya, kata dia, sebanyak 2.260 orang.

“Dari sisi pekerjaan, yang terbanyak sebagai penderita HIV/AIDS ini ialah berasal dari kalangan wiraswasta,” ungkapnya kepada wartawan di Medan.

Usma menjelaskan, perilaku kalangan usahawan ini menjadi penyebab mereka terinfeksi dari penyakit tersebut. Seperti perilaku hidup yang glamor, kebebasan, hingga hubungan seksual.

“Wiraswasta itu, sebagian besar adalah pengusaha muda. Mungkin karena gaya hidup,” jelasnya.

Selain itu, Usma juga mengatakan, jumlah penderita HIV/AIDS di Medan berdasarkan usia 25-34 tahun sebanyak 3.002 orang. Sedangkan untuk jenis kelamin, laki-laki ada sebanyak 4.006 dan perempuan 1.294 orang.

Lebih lanjut, Usma mengungkapkan berdasarkan data pada layanan primer, juga terdapat PNS sebagai penderita.

Terlebih untuk data penderita HIV/AIDS yang ada pada layanan skunder atau sudah tahap penanganan, disebut Usma tidak dapat disampaikan.

Usma mengakui jika jumlah penderita HIV/AIDS memang meningkat. Namun, sebutnya, jika jumlah yang tercatat itu menunjukkan pencapaian jangkauan, begitu juga karena kesadaran dari penderita HIV/AIDS sudah tinggi untuk berobat.

Meski demikian, lanjutnya, HIV/AIDS, merupakan fenomena gunung es. Dicontohkannya, seperti pasangan penderita HIV/AIDS, yang tidak sadar telah tertular akan menularkan kepada pasangan selanjutnya, kemudian begitu seterusnya.

Oleh karena itu, dikatakan Usma jika heteroseksual menjadi faktor paling tinggi, hingga ibu rumah tangga rentan tertular, hingga kepada bayinya.

“Pada prinsipnya, masalah ini menjadi tanggung jawab bersama. Jadi penderita harus mau datang ke sarana pelayanan. Tidak perlu malu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota Komite III DPD RI Damayanti menyebut berdasarkan pertemuan dengan Menteri Kesehatan, disebut kalau Kementerian Kesehatan menargetkan 3 zero HIV/AIDS pada tahun 2030.

Ia menerangkan, 3 zero itu yakni zero New HIV Infection, zero AIDS Related Death dan zero Discrimination.

“Memang saat ini penanganan HIV/AIDS menurut saya masih kurang tajam. Namun setidaknya sudah ada niat baik dari pemerintah,” ujarnya. #pojoksatu#

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel