Pilih lah Gubernur Bupati Walikota seperti ini!

Pesta demokrasi akan segera berlangsung, Rakyat dari daerah-daerah di Indonesia akan memilih kembali secara langsung pemimpinnya. Tetapi, di antara calon-calon tersebut, baik di tingkat Gubernur, Bupati dan Walikota adakah yang pantas dipilih? Apakah rakyat akan memilih pemimpin yang merakyat? Lalu, Apa saja kriteria pemimpin yang merakyat itu? Dan seberapa besar hasil Pilkada ini memberikan perubahan sosial politik dan ekonomi ?

Setidaknya, Meski masyarakat tidak sedikitpun peduli, siapa yang menjadi pemenang. Karena bagi rakyat, yang penting adalah, bagaimana dapat hidup tenang, aman dan nyaman serta cukupnya sandang pangan dan bebas dalam mencari rezeki tanpa diliputi oleh rasa takut. 

Di antara calon-calon itu, adakah yang benar-benar memahami keinginan rakyat ? Apakah mereka menjadi bagian dari pemimpin yang dielu-elukan oleh rakyat yang sedang berjuang keluar dari kepahitan hidup ini?. Karena itu Pilihlah Gubernur Bupati Walikota seperti ini :

Gubernur Bupati Walikota

Tipe Pemimpin yang Merakyat

Saya sangat percaya bahwa sebenarnya siapapun mampu memimpin dan mengembalikan masyarakat kepada masa jayanya. Tetapi sedikit sekali orang yang mau melakukannya. Ambisi menjadi pemimpin tak pernah dilandasi untuk berbuat dan melayani masyarakat. Selalu saja pemimpin itu termakan nafsu kehendak berkuasa untuk kepentingan diri, golongan dan kerabat serta kelompoknya. 

Pengalaman masa lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwa sebenarnya rakyat tak pernah benar-benar memiliki pemimpin yang selalu memikirkan kehidupannya. Dikarenakan, pemimpin yang terpilih itu hanyalah berdasarkan kompromi-kompromi (suap-menyuap) bahkan melalui intimidasi, sementara rakyat belum tentu setuju dengan orang yang terpilih itu.

Sangat wajar terjadi, jika rakyat merasa tak pernah memiliki pemimpin. Apalagi nasib mereka tak pernah dibela. Malahan, rakyat dibiarkan sendirian berkutat dengan kegetiran hidup, dan segala persoalan yang mengancam kehidupan mereka. Rakyat sama sekali tak punya induk yang melindungi mereka. Tak ada tempat mengadu dan membicarakan setiap persoalan yang ada.

Wajar saja jika ada yang mengatakan kalau negeri ini tak butuh penguasa saat ini. Kami hanya butuh pelayan. Kami butuh orang yang mampu diperintah untuk selalu melayani dan memikirkan rakyatnya setiap saat. Kami butuh pemimpin yang selalu akrab dengan kehidupan sosial kami. Pemimpin yang selalu memiliki waktu untuk menyapa dan bahkan mendengarkan setiap keluh kesah rakyatnya. Rakyat butuh pemimpin yang bisa diajak bercanda dan saling tertawa. Pemimpin yang bisa mendengarkan keluh kesah mereka dalam kondisi yang sangat akrab dan bersahabat.

Karena itu, seorang pemimpin ke depan haruslah beranjak dari bawah. Bukan dari kalangan elite yang “sok” paham persoalan masyarakat. Dia haruslah orang selalu dekat dengan rakyat dalam berbagai kondisi dan situasi. Dia mestilah orang yang selalu ini dipercayakan oleh rakyat untuk mendengarkan cerita-cerita dan persoalan mereka. Artinya, orang yang selalu berhubungan dengan masyarakat paling bawah.

Kenapa hal ini penting? Setidaknya, ia mengetahui persoalan yang sedang dialami dan dihadapi rakyat yang dipimpinnya. Karena itulah, seorang pemimpin yang merakyat, dia selalu menyempatkan diri mengunjungi desa-desa terpencil, tertinggal, terisolir, terpinggirkan, terbelakang, dan sebagainya serta tinggal di sana, mengobrol dengan masyarakat di warung-warung kopi, balai desa, atau di setiap majelis taklim. 

Namun, hal ini tidak banyak dilakukan oleh para kandidat yang sekarang maju dalam Pilkada ini. Di samping mentalitas yang elitis yang tidak merakyat juga ketokohan mereka sama sekali tidak mengakar dan memiliki basis sosial yang kuat pula di masyarakat. Kita hanya menyaksikan para kandidat ini rajin turun ke lapangan dan menyapa calon pemilihnya ketika datang musim kampanye saja atau dikarenakan hanya berharap dapat dipilih oleh rakyat. Jika diluar pesta demokrasi kita harus bermimpi menemukan para tokoh ini berada di tengah-tengah masyarakat kecuali satu, atau dua orang saja. 

Jadi, sudah dapat ditebak, mengapa selama ini berbagai kondisi dan aspirasi rakyat tidak mampu ditangkap dan diperjuangkan? Mereka sama sekali tidak mengetahui bagaimana kondisi dan aspirasi masyarakat yang dipimpinnya.

Community Worker

Pemimpin dapat disebut juga sebagai Community Worker, orang yang selalu bekerja di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, ke depan, pemimpin hendaknya bukanlah yang menampakkan sifat elite yang berlebihan, apalagi lupa pada kampung halamannya. Saya ingin katakan, bahwa ke depan kita butuh pemimpin yang bisa ditemui di tengah-tengah masyarakat, bisa ditemui sedang mengobrol dengan masyarakat di warung kopi atau sedang berdiskui di tengah majelis taklim di mesjid dan sebagainya. Ia bisa ditemui sedang memimpin shalat berjama’ah di mesjid suatu kampung yang jauh dari ibukota. 

Kesan pemimpin yang begitu elite, mutlak harus ditinggalkan. Jika dahulu sering ditemui pemimpin sibuk pulang-pergi daerah-Jakarta atau luar negeri mesti segera ditinggalkan. Karena ke depan kita butuh pelayan, yang selalu mengabdi untuk kepentingan masyarakat. Ia lah yang akan memimpin proses rehabilitasi dan rekonstruksi serta berbagai program kesejahteraan masyarakatnya. 

Karena itu kita butuh pemimpin yang inspiratif dan instuitif. Maksudnya pemimpin yang tak pernah kering dengan ide-ide brilian serta selalu mengetahui persoalan-persoalan yang berkembang dan memahami cara menyelesaikannya. 

Karena itu, ketika pemimpin dipahami sebagai community worker, dia bisa ditemui di tempat-tempat berkumpulnya masyarakat. Dari sinilah, biasanya masyarakat biasa mengobrol apa saja, mulai dari persoalan kegetiran hidup, masalah musim tanam dan panen, bisnis sampai sistem berpolitik masyarakat. Jika sang pemimpin ada di sana, dia pasti bisa menangkap apasaja keinginan dan persoalan yang sedang dihadapi oleh rakyatnya.

Dalam pembicaraan di tempat ini, sama sekali tidak pernah ditentukan tema, melainkan lintas topik dan persoalan, namun mengandung pesan penting bahwa masyarakat sedang membicarakan kondisi, nasib dan persoalan yang sedang dihadapi. Kadang-kadang topiknya bercampur-campur dan tidak karuan. Kalau dihimpun bisa dirumuskan sebuah tema sentral dan sistematis. 

Pembicaraan kadang-kadang dilakukan dalam kondisi sangat santai, akrab dan mendalam walaupun mereka berbicara sesamanya. Kadang-kadang penuh ketegangan dan tidak karuan. Tidak ada tokoh yang khusus diundang untuk membicarakan atau membahas sesuatu persoalan. Yang banyak mengetahui biasanya lebih mendominasi pembicaraan.

Sebenarnya inilah yang disebut pendidikan politik versi rakyat secara tidak langsung: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Di dalam forum informal seperti ini, tidak lahir istilah-istilah ilmiah yang sama sekali tidak dekat dengan masyarakat, tetapi lebih banyak lahir istilah khas masyarakat yang memiliki sebuah makna filososif yang mendalam.

Jika punya waktu, cobalah para kandidat ini berperan sebagai community worker sejenak. Saat inilah yang tepat untuk menyerap aspirasi masyarakat, harapan mereka terhadap para kandidat dan penilaian mereka untuk kandidat. Di setiap, dimana saja masyarakat lebih banyak membicarakan siapa kira-kira calon Gubernur bupati walikota mendatang. Masyarakat, khususnya yang sering membaca koran /menonton TV mengetahui secara pasti siapa saja calon Gubernur dan Bupati atau walikota. 

Bila para kandidat ini mau mengetahui bagaimana penilaian masyarakat terhadap dirinya tak ada salahnya jika menyempatkan diri berada di tengah-tengah masyarakat, jika perlu menyamar. Karena di sini, nama anda, sikap anda, perilaku dan kiprah politik anda sudah cukup terhafal di memori masyarakat. 

Di samping itu, mereka juga mampu memetakan kekuatan masing-masing anda, peluang anda dan track record anda dan hal-hal lain. Sehingga sekilas, pembicaraan ini ibarat obrolan tim sukses, pakar atau pengamat. Bedanya, rakyat sama sekali tidak menggunakan analisis ilmiah atau analisis SWOT (Kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan) para kandidat. Walaupun sebenarnya apa yang mereka bicarakan dan perdebatkan tidak jauh bedanya dengan analisis SWOT. Tetapi begini lah potret masyarakat kita, pintar secara alami tanpa pernah mengecap pendidikan tinggi dan gelar macam-macam.

Pemimpin Inspiratif dan Instuitif

Di tempat-tempat itulah rakyat sebenarnya belajar memberdayakan diri. Di sana mereka belajar menyelesaikan sebuah persoalan lewat diskusi atau kajian. Sebuah persoalan dihadapi dengan rapat dan dengan sikap rasional. Seringkali, suatu persoalan yang sulit diselesaikan sebelumnya menjadi mudah karena proses pemecahan yang akrab dan rasional seperti ini. Jika kita mau jujur, sebenarnya banyak sekali persoalan masyarakat yang mampu mereka selesaikan sendiri.

Yang ingin disampaikan di sini adalah dengan selalu berada di tengah-tengah rakyat memudahkan bagi elite-elite politik untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. Karena itu kita sarankan, sesekali berkunjunglah ke kampung dan bergaul dengan masyarakat biasa. Tak usah bawa pengawal atau seperti kunjungan dinas, karena jika begini bakal tidak mampu berbicara dengan rakyat secara langsung. 

Rakyat sebenarnya sangat ingin berbicara dengan elite yang mewakilinya untuk menyampaikan keluhan secara langsung. Tapi jarang ada pejabat yang mau berbicara dan mengunjungi rakyatnya secara sendirian. Padahal, jika benar ia mewakili rakyat, sudah pasti dia tidak merasa takut dan malu berjumpa dengan rakyat. 

Berkacalah pada Khalifah Umar Bin Khattab, seorang khalifah yang tidak bisa tidur nyenyak di malam hari jika belum melakukan ronda dan mengunjungi rakyatnya untuk memastikan apakah mereka sudah tidur atau masih memikirkan makanan untuk anaknya.

Mengapa tidak, sesekali tokoh politik terjun ke kampung dan duduk ngobrol dengan masyarakat tanpa membawa pengawal dan protokoler yang berbelit-belit. Tinggalkan kesan elitis dan tidak merakyat. Agar anda-anda ini tenang ketika berbicara dengan rakyat. Setidaknya, kondisi masyarakat kita tidak seburuk ini jika ada pemimpinnya yang berjiwa seperti itu. 

Karena dengan berbuat begitu, anda-anda tak pernah kering ide serta akan melahirkan inspirasi-inspirasi yang dapat digunakan untuk membangun negeri ke depan.

Sebelum memilih, telitilah terlebih dahulu calon dan pelajari riwayat hidupnya, agar kita tidak memilih pemimpin yang pernah menyengsarakan hidup kita. 

Terakhir saya ingin menyampaikan kepada seluruh rakyat, selamat menentukan pilihannya, dan jangan sampai salah pilih !.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel