Wajib Baca dan Wajib Memiliki Kesadaran Politik

Kesadaran Politik Ummat Islam - yang dimaksudkan bukanlah kesadaran terhadap berbagai situasi politik, posisi-posisi internasional, maupun peristiwa-peristiwa politik melainkan hanyalah suatu upaya untuk memahaminya.

Sementara maksud dari "kesadaran politik" adalah merupakan upaya manusia untuk memahami bagaimana mengelola dan menjaga urusannya.   Kesadaran   politik merupakan suatu pandangan yang mencakup seluruh dunia internasional atau universal dengan sudut pandang yang khas.

Pandangan menyeluruh yang mencakup seluruh dunia internasional tanpa melalui sudut pandang yang khas adalah pandangan sempit yang bukanlah kesadaran politik. Begitu juga pandangan yang bersifat regional adalah pandangan yang sangat dangkal dan tidak melahirkan kesadaran politik.

Wajib Baca dan Wajib Memiliki Kesadaran Politik

Kesadaran politik tidak akan sempurna, kecuali dipenuhinya dua unsur : Pertama, adanya pandangan yang universal, yang tidak terbatas pada negeri-negeri tertentu. Kedua, pandangan tersebut harus berawal dari dari sudut pandang khusus, dari manapun asalnya, bisa merupakan mabda' ideologi atau ide-ide tertentu.

Dari sini dapat dipahami, bahwa kesadaran politik tidak hanya dimiliki oleh politikus atau cendekiawan, tetapi bersifat umum sampai kepada kalangan awam atau masyarakat yang buta huruf. 

Kesadaran politik harus ada di tengah-tengah umat secara keseluruhan, walaupun dalam bentuk global. Sebab tanpa adanya kesadaran politik ini di tengah-tengah umat, malahan ada pada setiap individu umat, maka tidak mungkin mengetahui pentingnya bagi umat ide-ide yang telah dimilikinya.

Kesadaran politik merupakan kebutuhan mendesak yang harus tersosialisasikan di tengah-tengah umat. Tanpa adanya kesadaran politik, maka tidak mungkin mengetahui pentingnya Islam bagi kehidupannya dan masyarakat secara umum.

Dan tidak akan memperoleh dukungan dari umat terhadap para pendakwah yang selalu berjuang melawan kekufuran dan penjajahan. Dukungan umat harus ada di setiap kondisi, baik saat datangnya kemenangan atau pada saat ditimpa kekalahan.

Tanpa adanya kesadaran politik, tidak akan terealisir nilai-nilai Islam yang agung, keadaan umat akan bertambah buruk, sehingga hilanglah sebab-sebab yang mendatangkan kemajuan dan kemuliaan umat, bahkan terbuanglah segala usaha yang telah dicurahkan untuk membangkitkan umat. 

Tiadanya kesadaran politik di kalangan kaum muslimin akan mempercepat kehancuran kaum muslimin itu sendiri, serta menghilangkan setiap sarana dan metode yang mendukung berlangsungnya kehidupan Islam, sekaligus berkembangnya dakwah Islamiyah. 

Makanya kesadaran politik merupakan suatu masalah yang menjadi kebutuhan yang amat mendesak bagi umat Islam.  Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masalah ini menyangkut persoalan "hidup atau mati".

Adanya beberapa individu umat yang kuat kesadaran politiknya, tidak mungkin dapat menjadikan umat terhindar dari kehancuran walaupun orang-orang yang kuat kesadaran politiknya tersebut dalam jumlah banyak, selama keberadaannya tetap sebagai individu-individu. 

Mereka bersama umat akan ditimpa malapetaka, sekaligus menyaksikan kemerosotan umat dan menderita akibat dari kemerosotan ini. Oleh karena itu, kesadaran politik harus dimiliki mayoritas individu umat, walaupun tidak harus dimiliki setiap individu umat.

Oleh Karenanya, haruslah segenap usaha dan tenaga dicurahkan untuk mewujudkan kesadaran politik di tengah-tengah umat, sebanding dengan seluruh usaha dan tenaga yang harus dicurahkan secara sungguh-sungguh untuk mewujudkan dan mempertajam persepsi Islam di tengah umat. 

Demi tumbuhnya perasaan bahwa seluruh dunia membutuhkan Islam, dan mengetahui arah hidup yang benar, maka perasaan ini harus terpatri terlebih dahulu oleh kebutuhan umat terhadap Islam yang kemudian ditingkatkan dengan membentuk kesadaran kepada kaum muslimin tentang Islam dan menarik perhatian mereka terhadap Islam. 

Artinya, kaum muslimin wajib mencurahkan kesungguhannya, agar umat ini memandang seluruh kondisi di dunia dari sudut pandang Islam, sampai muncul pada sebagian besar kaum muslimin, walaupun masih dalam bentuk global, ketika mencurahkan segenap kemampuannya untuk membentuk kesadaran di tengah-tengah masyarakat dan membangkitkan kerinduan kepada Islam.

Yang pertama harus diperhatikan adalah bahwa kesadaran yang dihasilkan tersebut memiliki ciri yang istimewa, yaitu berupa pandangan yang universal terhadap kemaslahatan manusia ditinjau dari sudut pandang Islam. 

Umat Islam harus memiliki keyakinan bahwa upaya menyelamatkan seluruh dunia, dengan selain Islam, adalah hal yang tidak mungkin sama sekali. Mereka harus menyadari bahwa upaya mewujudkan Islam di tengah-tengah percaturan kehidupan masyarakat, tanpa adanya Daulah islamiyah, hanyalah angan-angan kosong belaka. 

Di kalangan orang yang kuat kesadaran politiknya, perlu menyadari bahwa upaya merealisasikan Daulah Islamiyah tanpa adanya umat Islam adalah anggapan kosong dan bahwa usaha umat untuk mewujudkan Daulah Islamiyah, tanpa kesadaran politik, adalah tak lebih dari sekedar khayalan dan lamunan saja.

Kesadaran politik baru terlihat pada diri umat, ketika terlihat bahwa pandangan mereka terhadap dunia ini berdasarkan sudut pandang Islam. Namun demikian, bagi seorang individu, kesadaran politik ini tidak akan terlihat melainkan jika telah tumbuh dan terbuka kesadaran itu dalam dirinya. 

Memang sulit untuk mengetahui bahwa seseorang telah kuat kesadaran politik-nya, jika kesadaran itu belum terlihat secara nyata pada dirinya. Bagi yang kuat kesadaran politiknya, tidak lagi terpengaruh oleh informasi hebat dan berlebihan, atau julukan dan nama besar.  Ia senantiasa akan berhati-hati agar pikirannya tidak termakan propaganda dan publikasi media massa.

Orang yang kuat kesadaran politik-nya senantiasa menjaga diri untuk tidak tersesat oleh fakta-fakta atau dalam mencari hakikat tujuan yang ia ingin meraihnya. Ciri khasnya adalah sifat kehati-hatiannya dalam menerima informasi atau pendapat tertentu, agar ia tidak dipengaruhi walaupun sesuatu yang sepele artinya ia akan mengambil segala sesuatu dengan penuh kesadaran dan selalu berpikir tentang hakikat kenyataan serta kedudukannya di antara tujuan yang sedang diupayakannya.

Kecenderungan terhadap sesuatu yang diperoleh partai, atau suatu gerakan, ataupun ideologi tertentu kadangkala dapat mendorongnya untuk menafsirkan suatu pendapat atau berita dan kadang-kadang dapat memutarbalikkan fakta dengan menambah sesuatu yang dapat dipandang oleh seseorang sebagai hal yang benar, padahal tidak, atau dipandang sebagai hal yang dibuat-buat, padahal benar. 

Oleh karena itu, orang yang memiliki kesadaran politik perlu menyadari setiap tindakan atau yang diucapan atau setiap tindakan orang lain. Akan tetapi, harus banyak orang yang mengetahui masalah tersebut. 

Dikarenakan orang yang kuat kesadaran politik-nya adalah orang yang dapat memahami sesuatu dan menjelaskannya kepada umat yang lain hingga hal itu dapat dijadikan sebagai bahan perbincangan dan diskusi di tengah-tengah umat. 

Kemudian, berupaya menumbuhkan kesadaran tersebut pada keseluruhan umat sehingga umat terbiasa tidak mudah menerima informasi begitu saja, tetapi terbiasa mengkaji terlebih dahulu setiap  berita yang diterimanya.

Seseorang tidak dapat dikatakan memiliki kesadaran politik, jika tindakannya berlawanan dengan apa yang ia katakan atau ia memiliki pendapat tertentu tetapi tidak menerapkannya. 

Sebenarnya orang yang menganut suatu ideologi atau ide tertentu yang memiliki kesadaran politik terhadap ideologinya, maka kesadaran itu akan terlihat pada aktivitas perbuatannya, bukan dalam ia berbicara. 

Selama kesadaran itu tidak muncul dalam ativitasnya dan akibatnya, maka sudah selayaknya ia maupun orang lain meragukan adanya kesadaran politik tersebut atau paling tidak adanya kesadaran yang benar dalam dirinya.

Individu, kelompok atau gerakan atau masyarakat yang sudah memiliki kesadaran politik, tidak akan terbukti kesadarannya kecuali dengan merealisasikannya dalam aktivitas nyata dan belum tampak kejujurannya, melainkan dengan melakukan persembahan dan pengorbanan.

Inilah ciri-ciri orang yang benar-benar memiliki kesadaran politik yang benar, karena arti dari kesadaran itu adalah mengamati dan memperhatikan. Sementara maksud dari kesadaran yang bercirikan politik adalah memelihara dan mengatur urusan diri dan umat berlandaskan kesadaran tersebut.

Makanya, orang-orang yang telah kuat kesadaran politiknya pasti akan berhadapan dengan berbagai problema dalam berinteraksi secara langsung dengan realita, manusia, dan permasalahan kehidupan. Tidak ada perbedaan apakah hal ini berkenaan dengan kondisi lokal maupun internasional.

Pada saat mereka berhadapan dengan situasi itu, akan terlihatlah kemampuannya untuk menjadikan beban yang dipikulnya atau sudut pandang khusus terhadap dunia sebagai azas dan merupakan tujuan yang harus diraihnya.

Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara individu dengan umat.  Usaha umat untuk berbuat sesuai dengan sudut pandang yang khas dan tertentu yang digunakannya untuk memandang dunia ini, adalah sama dengan usaha yang dilakukan individu, dua-duanya harus ada. 

Demikian pula, umat maupun individu harus menjadikan sudut pandang tersebut sebagai aqidah, sama halnya dengan berhadapannya mereka dengan berbagai problema kehidupan yang merupakan suatu keharusan, baik untuk umat maupun individu, dan dilakukan, sehingga dalam diri umat dapat dibenarkan adanya kesadaran politik.   Makanya, dalam individu umat, sebagai satu kesatuan, harus terdapat tiga hal :

Pertama: Adanya kesempurnaan perhatian terhadap kepentingan umat, dan merupakan tindakan yang muncul dengan sendirinya. Sehingga seorang muslim dalam do'anya memohon : "Ya Allah, berikanlah rahmat (karunia)-Mu kepada umat Islam" sebagaimana ia berdo'a untuk dirinya sendiri : "Ya Allah, berikanlah rahmat (karunia)-Mu kepadaku."

Kepeduliannya terhadap umat akan tampak dalam perkataannya seperti : "Apakah tentara Islam mendapat kemenangan ?" sebelum la menanyakan keadaan anaknya yang ada di antara tentara itu (selamat atau gugur).

Kedua: Munculnyanya kesamaan pandangan dan kedisiplinan terhadap sesuatu yang wajib dilawan atau dihancurkan, juga yang wajib dibangun dan ditumbuhkembangkan, baik berupa pemikiran, aktifitas, atau individu manusia.

Ketiga:  Ketaatan dijadikannya sebagai suatu watak, dan sikap penolakan terhadap suatu perintah suatu perbuatan keji yang menjijikkan dan dibenci. Tunduk kepada musuh bukanlah suatu ketaatan. 

Karena itu pulalah kemudian kita terbiasa istilah "Islam Sosialis", atau "Demokrasi Islam", atau "Kesatuan Tanah Air dalam Islam".

Baca juga : Anda Perlu Tahu Pentingnya Citra Diri

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel