Pola Pikir Sains & Pola Pikir Rasional

Pola pikir sains (thariqah ilmiah) ialah satu buah metode pengkajian yg bisa ditempuh biar seseorang hingga kepada tahap mengetahui hakikat sesuatu yg diteliti, lewat beragam macam percobaan ilmiah. 

Tapi, proses pencapaian cuma berlaku bagi benda-benda yg bersifat materi/fisik, & tidak pada idea-idea (abstrak). Thariqah ilmiah ini bisa ditetapkan secara memperlakukan benda terhadap situasi/keadaan tertentu bukan terhadap situasi/kondisi yg alami. 

Hasil yg diperoleh setelah itu di bandingkan dgn hasil percobaan terhadap situasi/kondisi alami yg sudah ada (kontrol). Dari hasil percobaan yg diperoleh serta perbandingan yg dilakukan, akan diambil sebuah rangkuman berkaitan hakikat benda yg diteliti & bisa diserap oleh indera. Wujud percobaan ini sudah lazim dilakukan di laboratorium. 

Pola Pikir Sains

Thariqah ilmiah mengharuskan adanya ”peniadaan” pada segala wujud berita yg diperoleh pada awal mulanya berkaitan materi/benda yg diteliti. Seterusnya, dimulailah langkah-langkah pengamatan & eksperimen pada materi atau benda tersebut. 

Thariqah ini mengharuskan seorang yg hendak melaksanakan penelitian, lebih-lebih dulu mesti meniadakan setiap pandangan, opini, atau keyakinan berkaitan benda/materi tersebut yg sudah dihasilkan lewat eksperimen pada awal mulanya. Seterusnya sejak mulai jalankan pengamatan & eksperimen, dilanjutkan studi komparasi, klasifikasi hingga mencapai satu buah rangkuman yg diperoleh berdasarkan tahapan/proses ilmiah tadi. 

Jika satu orang sudah sampai terhadap satu buah rangkuman sesudah laksanakan eksperimen, sehingga hasil penelitiannya itu berupa ringkasan ilmiah, yg kebanyakan didasarkan kepada satu buah penelitian/ekspenmen. Rangkuman itu tetap adalah ringkasan ilmiah, tatkala belum dapat dibuktikan adanya kesalahan dalam salah satu penelitiannya. 

Ringkasan yg dihasilkan oleh seseorang peneliti lewat thariqah ilmlah, walaupun dinamakan yang merupakan satu buah kenyataan ilmiah atau etika/tata cara ilmiah, akan tetapi belum fixed (tentu), yaitu masihlah mengandung "faktor kesalahan”. Bahkan adanya "factor kesalahan" dalam thariqah ilmiah adalah paradigma yg paling mendasar yg mesti diperhatikan dalam thariqah ilmiah, sama seperti yg ditetapkan kebiasaan ilmiah. 

Kesalahan dalam mengambil ringkasan tidak jarang berlangsung & sudah terbukti ditemukan beraneka kekeliruan di sektor sains, sesudah pada awal mulanya dianggap juga sebagai aspek ilmiah yg fixed (tentu), yang merupakan sampel, teori ilmiah menyangkut atom, yg pada awal mulanya dikatakan sbg partikel kecil dari satu buah benda yg tak akan dipecah lagi. 

Akan tetapi setelah itu terbuktilah kekeliruannya, serta dgn memakai metode ilmiah yg sama. Nyata-nyatanya, atom tetap bakal dipecah lagi. 

Dari sini bisa dipahami, bahwa thariqah ilmiah hanyalah berlaku buat benda/materi saja. Elemen ini lantaran termasuk juga kerangka berfikir paling mendasar dalam thariqah ilmiah ini ialah melaksanakan eksperimen pada benda dgn memperlakukannya kepada keadaan tertentu & bukan dalam kondisi/situasi yg alami (kusus dilakukan dalam ilmu terapan). 

hal tersebut tak bisa dilakukan kepada sesuatu yg berbentuk gagasan atau pemikiran (abstrak). Oleh oleh karenanya juga, ringkasan yg dihasilkan dari thariqah ilmiah yaitu rangkuman yg bersifat dugaan & tak pasti, juga mengandung “faktor kesalahan." 

Sedangkan pola fikir rasional (thariqah aqliyah), ialah sebuah metode pengkajian yg akan ditempuh supaya satu orang hingga kepada step mengetahui hakikat sesuatu yg sedang dikaji, lewat indera yg menyerap obyek. 

Proses penyerapan tersebut dilakukan lewat panca indera menuju ke otak, dibantu oleh pengetahuan/informasi diawal mulanya yg dapat menafsirkan & memberikan ketetapan(sikap) atas bukti tersebut. 

Ketentuan tersebut disebut pemikiran atau idea (thought) merupakan pemahaman yg diperoleh akal dengan cara serta-merta. Thariqah ini mencakup pengkajian materi/obyek yg akan diindera (ilmu fisika), ataupun yg bukan materi/abstrak (berkenaan dgn pemikiran). 

Dan ini satu-satunya metode yg alami yg ada dalam diri manusia utk mendalami segala sesuatu. Adalah dgn terbentuknya pemikiran atau pemahaman pada sesuatu. 

Pola piker seperti ini yakni definisi akal. secara inilah, manusia dalam kedudukannya juga sebagai manusia mampu mendalami segala sesuatu yg sudah lalu, baik yg sudah maupun yg mau dia ketahui. 

Hasil yg diperoleh lewat thariqah aqliah, mengandung dua kemungkinan. Apabila ringkasan itu berkenaan menyangkut "ada” atau "tidak adanya wujud" sesuatu, sehingga dirinya bersifat pasti/fixed & sedikit pula tak mengandung aspek kesalahan. 

Dikarenakan, ketentuan itu diambil lewat penginderaan kepada sesuatu, sedangkan fasilitas indera manusia tak kemungkinan salah dalam tentukan "adanya" sesuatu yg bersifat nyata, lantaran penyerapan indera manusia kepada "adanya” sesuatu fakta bersifat tentu, maka ketetapan akal utk memastikan "adanya" sesuatu yg terindera yaitu tentu. 

Kesalahan yg barangkali berlangsung dgn metode ini diakibatkan kesalahan penginderaan. Contohnya saja fatamorgana yg disangka air atau pensil yg lurus nampak bengkok & patah diwaktu dicelupkan kedalam air. 

Namun begitu, faktor ini tak berarti meniadakan adanya sesuatu, yakni adanya fatamorgana & pensii. Kesalahan ini terletak kepada fenomena yg ada, ialah memandang fatamorgana sbg air, & pensil yg Iurus dikatakan bengkok atau patah. 

Begitu pun dalam mendalami beraneka fenomena-fenomena lainnya, sesungguhnya penginderaan manusia konsisten tak mau salah dalam menenrukan adanya sesuatu, jikalau dia merasakan/mengindera sesuatu sehingga berarti sesuatu itu tentu ada, demikian pun kepada ketentuan yg dia Iihat/rasakan bersifat tentu. 

Jikalau ringkasan atau ketentuan tersebut berkenaan dgn hakikat atau fenomena dari sesuatu, sehingga bersifat tak tentu atau mengandung factor kesalahan. Karena, ketentuan tersebut diambil berdasarkan berita yg diperoleh atau interpretasi pada bukti yg terindera lewat info yg sudah ada, tetapi terdapat kemungkinan menyusup unsur kesalahan. 

Akan tetapi, dia dianggap juga sebagai pemikiran yg ”benar" hingga terbukti kesalahannya. Terhadap ketika itulah diputuskan bahwa kesimpulannya salah. Sedangkan pada awal mulanya, terus diliat sbg ringkasan yg sesuai atau pemikiran yg benar. 

Adapun penelitian yg memanfaatkan trick berpikir logika (mantiq), sesungguhnya bukan metode berpikir, melainkan salah satu kiat pembahasan yg dibangun berdasarkan pola piker rasional. 

Lantaran, pola pikir logika dilakukan dgn kiat membangun sebuah pemikiran/premis diatas pemikiran/premis lain yg kesimpulannya dapat diindera. Dgn trick ini, selanjutnya dihasilkan satu buah ringkasan tertentu. 

Contohnya, premis mula-mula menyebutkan papan tulis itu terbuat dari kayu; premis ke-2, tiap-tiap kayu memiliki sifat terbakar; sehingga kesimpulannya : papan tulis itu memiliki sifat terbakar. Demikian pun contohnya seekor kambing yg disembelih dikatakan mati apabila tak bergerak nyatanya kambing yg disembelih tak bergerak, sehingga kesimpulannya kambing itu mati. 

Bukti pola pikir logika tergantung kepada premis-premisnya. Kalau premisnya benar, sehingga dapat diperoleh rangkuman yg benar. Tapi kalau premisnya salah sehingga dapat diperoleh ringkasan yg salah kontradiktif. 

Diisyaratkan terhadap premis, pendapat yg bisa menghantarkan kepada suatu yg akan diindera. Aspek ini berarti kembali terhadap pola pikir rasional, & dgn penginderaan bakal memastikan benar salahnya rangkuman. 

Sehingga bisa dipahami, bahwa pola pikir logika adalah salah satu pola pikir yg dibangun berdasarkan pola pikir rasional. Dalam pola pikir logika terkandung unsur kesalahan atau barangkali adanya kekeliruan. 

Utk menguji bukti pola pikir logika, sehingga lebih baik memanfaatkan pola pikir rasional dalam menggali & tentukan kesimpulan, tidak dengan mempertimbangkan Iagi pola pikir logika (meski elemen itu bisa diperlukan), namun dgn syarat premis-premisnya mesti benar, yg perihal ini mampu didapati dgn cuma memakai pola pikir rasional. 

Berdasarkan spek di atas, sehingga jelaslah bahwa pada dasarnya metode berpikir cuma ada dua, merupakan pola pikir sains & pola pikir rasional. Yg mula-mula mengharuskan adanya pengabaian pada kabar yg telah ada (dipunyai), sedangkan yg ke-2 justru mengharuskan adanya berita yg diperoleh diawal mulanya. 

Pola pikir rasional ialah basic dalam berpikir. Cuma dgn pola pikir tertentu bisa diperoleh pemikiran yg tak bisa di raih dgn kiat pola pikir sains maupun pola pikir logika. Dgn pola pikir rasional bisa ketahuan tiap-tiap realita ilmiah lewat pengamatan eksperimen & penarikan kesimpulan. 

Dgn metode itu juga bakal ketahuan realita tiap-tiap kesimpulan yg dihasilkan oleh pola pikir logika & lain sebagainya. Demikian juga dgn metode itu, bakal ketahuan realita peristiwa & bakal membandingkan kesalahan atau bukti histori. 

Dgn metode itu juga manusia bakal mendapatkan pemikiran yg bersifat integral menyangkut alam semesta, manusia, & kehidupan pun realita dari alam semesta, manusia & kehidupan tersebut. 

Sementara itu, pola pikir sains tak bakal bisa membuahkan sesuatu, atau bahkan tak sempat ada kecuali bila dibangun berlandaskan pola pikir rasional atau sesuatu yg sudah ditetapkan berdasarkan pola pikir rasional. 

Dgn begitu, satu buah yg tentu bakal dialami bahwa pola pikir sains tak bisa dijadikan 
juga sebagai basic berpikir. disamping itu, pola pikir ini memastikan bahwa segala sesuatu yg tak akan dijangkau oleh indera yaitu tak berwujud. 

Maka, ilmu logika, histori, & teori-teorinya diabaikan, dikarenakan semua ini belum terbukti dengan cara ilmiah keberadaannya. Dikarenakan, seluruhnya itu tak ditetapkan dgn pola pikir sains, yakni dgn kiat pengamatan, eksperimen, & penarikan kesimpulan. 

Apabila begitu halnya, sehingga ini yaitu kesalahan yg keseluruhan. Lantaran itu, pengetahuan alam hanyalah salah satu cabang dari dunia ilmu pengetahuan. Ia yakni salah satu kategori pemikiran dari semua kategori pemikiran yg ada, sedangkan kategori ilmu pengetahuan sangat banyak & seluruhnya itu justru tak ditetapkan berdasarkan pola pikir sains, tapi dgn pola pikir rasional. 

Oleh sebab itu pola pikir sains tak bakal dijadikan asas/dasar pola berpikir. Yg mesti dijadikan basic asas berpikir yaitu pola pikir rasional. 

Namun begitu, pola pikir sains adaiah pola pikir yg salah. Kesalahannya yakni menjadikannya asas utk berpikir. Dgn begitu, sbg asas berpikir, bakal rnenimbulkan kesulitan. 

Pola pikir ini bukanlah sebuah asas yg jadi basic tegaknya sesuatu, melainkan cuma saiah satu cabang yg ditegakkan di atas sebuah asas. Dgn menjadikannya juga sebagai asas berarti sudah membuang/tidak membahas sebahagian besar ilmu pengetahuan & reaiita-realita hidup. 

Perihal itu bakal mengakibatkan terjadinya penolakan kepada sebahagian besar ilmu pengetahuan yg dipelajari yg mengandung banyak realita, padahal dia (ilmu pengetahuan & reaiita itu) ada. 

Lebih-lebih lagi, pola pikir sains akhirnya berupa dugaan & didalamnya terdapat unsur kesalahan. Faktor ini jadi paradigma (kerangka berpikir) yg rata-rata senantiasa diperhatikan oleh pola pikir tersebut. 

Oleh sebab itu, tak patut pola pikir sains dijadikan sbg dasar/asas berpikir. Dikarenakan, dgn pola pikir ini bakal dihasilkan rangkuman yg bersifat dugaan berkenaan bentuk & sifat dari sesuatu. 

Sebaliknya, pola pikir rasional dapat membuahkan kesimpulan atau ketentuan yg tentu berkenaan bentuk & sifat-sifat tertentu yg ada terhadap sesuatu, meskipun dari sisi hakikat sesuatu & sifatnya, kesimpulan itu tak bersifat dugaan belaka, akan tetapi dari sisi penentuan kenyataan "adanya” suatu & sifat-sifat tertentu dari sesuatu itu yaitu tentu & meyakinkan. 

Dgn begitu, poia pikir rasional mesti dijadikan sbg asas penelitian, mengingat bahwa kesimpulan yg dihasilkannya bersifat tentu. Seandainya satu buah rangkuman berkaitan bentuknya sesuatu & sifat-sifat yg terkandung di dalamnya didasarkan kepada pola pikir rasional tidak sejalan dgn ringkasan yg diperoleh dgn pola pikir sains, sehingga sudah semestinya jika yg diambil yakni pola pikir rasional. 

Dikarenakan, pasti yg diambil yaitu elemen yg bersifat tentu, bukan yg bersifat dugaan. Hasilnya, dapatlah dipahami bahwa kesalahan berpikir yg berlangsung diseluruh dunia ini yaitu dikarenakan dijadikannya pola pikir sains sbg asas pola pikir sekaligus juga sebagai penentu dalam menetapkan pemahaman kepada sesuatu. 

Kesalahan itu mesti diluruskan & ialah sebuah keharusan menjadikannya pola pikir rasional yang merupakan asas berpikir & selalu menjadikannya yang merupakan pegangan dalam memutuskan pemahaman kepada sesuatu. 

Baca juga : Wajib Anda Tahu, Inilah Peran Insting Dalam Proses Identifikasi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel