Sampaikan Menurut Kadarnya

SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG TELAH MENCAPAI MAKRIFATULLAH   tidak akan berbicara kecuali dengan  takaran   yang tepat untuk orang yang tepat.  Ia menahan apa yang sekiranya disampaikan dapat menyebabkan manusia mendustakan Allah dan rasul-­Nya, meskipun ltu merupakan   kebenaran.     

lni bukan berarti  menyembunyikan ilmu, tetapi  meletakkan pada tempat yang tepat  dan menyampaikan sesuai  dengan kadar pemahaman  orang yang mendengarkan.

Dalam Shahihnya,  Imam   Bukhari   menukil   perkataan Sayyidina  Ali karramullahu wajhahu, "Hendaklah kamu menasehati  orang lain sesuai  dengan tingkat kemampuan mereka. Apakah kamu senang sekiranya Allah dan Rasul­-Nya didustakan  sebab kurangnya pengertian  yang ada pada  mereka ?". 

Sungguh, di  antara   sebab­-sebab  kerusakan iman pada  manusia dan  guncangnya  hati orang-­orang yang belum kokoh keyakinannya, adalah perkataan yang seakan-akan lahir dari tingginya makrifat.  

Menurut Kadarnya

Padahal sangat jauh dari  kebenaran.  Boleh jadi  apa  yang disampaikan merupakan kebenaran,  sementara  ia tahu bahwa seharusnya kalimat tersebut  belum  saatnya dikemukakan disebabkan oleh  kurangnya pemahaman   dari yang mendengar. Tetapi   ia bersikukuh menyampaikan semata agar orang melihat tingginya ilmu yang ada pada dirinya. 

Sementara cukupnya seseorang dianggap berdusta apabila ia mengatakan seluruh perkara yang ia  ketahui. Orang-orang  yang telah mencapai tingkat kearifan, bukanlah mereka yang sibuk berbicara  dengan  bahasa yang membuat mulut berdecak kagum, sementara pikiran buntu mencernanya dikarenakan rumitnya istilah. 

Tetapi 'arif adalah mereka yang  dapat mengantarkan manusia untuk lebih mengenal kebenaran.  Mereka tidak membuat putus asa orang-orang yang telah banyak berbuat dosa, dan tidak pula membuat mereka merasa aman  dari murka Allah. 

Adakalanya menahan pengetahuan  didahulukan apabila menyampaikannya  justru dapat menyebabkan orang meninggalkan kebenaran, dan berhenti melakukan kebaikan.

Imam Bukhari menukil percakapan antara Rasulullah saw. dengan Mu'adz. Hai Mu’adz, sabda  Rasulullah  saw. “ya”,  Wahai  Rasulullah,  Kebahagiaan bagi engkau,"  Jawab Mu’adz. "Hai  Mu'adz, sabda Rasulullah  saw. lagi. “ya”,  wahai  Rasulullah.   Kebahagiaan bagi engkau," Jawab  Mu’adz. Tiga kali ia mengucapkannya,

Rasulullah  saw.  bersabda,   "Tidak ada seorang pun yang bersaksi  bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dengan betul-betuI dari hatinya kecuali orang tersebut diharamkan  dari api neraka."

Mu'adz bertanya, "Wahai Rasul Allah, apakah saya tidak memberitahukan  kepada manusia agar mereka bergembira ?"  Beliau  bersabda,  "Kalau begitu mereka akan menyerah  (tidak berusaha berbuat apa-apa)."

Mu'adz bertanya, "Apakah  tidak   boleh   saya sampaikan  kabar gembira ini kepada orang banyak ?". Beliau menjawab, "Jangan !” Saya khawatir mereka akan menyerah (tidak berusaha)."

Diriwayatkan  dari jalan lain dari Anas bin Malik ra., ia berkata, "Diceritakan  kepadaku bahwa Nabi saw. bersabda kepada Mu'adz, "Barangsiapa yang menghadap Allah (meninggal dunia) sedangkan dia tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya, niscaya  dia akan masuk surga."

Hadis yang termuat dalam Mukhtashar Shahih al-Imam Al-Bukhari  (Ringkasan Shahih Bukhari) ini memberi pelajaran bahwa kebenaran sekalipun, harus benar menyampaikannya, benar caranya dan benar sasarannya. 

Kebaikan bisa menjadi keburukan apabila disampaikan kepada orang yang belum saatnya menerima. Seperti yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz, kebenaran hendaknya disampaikan secara bertahap. Menegakkan kebenaran sekaligus dikhawatirkan bisa membuat orang meninggalkan kebenaran secara sekaligus pula.

Wallahu A’lam Bishshawab, semoga Allah Memberi kita petunjuk dan Rahmat-Nya !, 
Aamiin  Ya Rabb ....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel