Menyalakan Pelita Kalbu Dengan Cinta

MORALTRAIL | Bagaimana sih Menyalakan Pelita Kalbu Dengan Cinta - "Seseorang tanya, "Wahai Rasulullah, macam mana kalau satu orang menyukai berpakaian keren ?" Ia menjawab, "Allah SWT Mahaindah & suka keindahan; angkuh ialah berpaling dari Allah & melecehkan manusia." 

Diriwayatkan oleh Abdullah Bin Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yg dalam hatinya terdapat kesombongan meski sekecil apa pun, dia tak dapat masuk surga. &, barangsiapa yg di dalam hatinya terdapat iman biarpun sekecil apa pun, ia tak dapat masuk neraka. 

Betapa besar nya penghargaan Allah SWT, maka iman sekecil apapun sewaktu berkembang & bertumbuh dalam jiwa manusia bakal memberikan jalan menuju surga. Sebaliknya, sikap arogan & dengki yg dibakar nyala api, betapapun kecilnya yg ada di hati manusia menyebabkan tertutupnya pintu-pintu surga. 

Pelita Kalbu

Sehingga benderangnya hati yg melahirkan iman bakal memberikan jalan yg terang, lapang, & tentu buat menguasai udara nafsunya. Iman yg bermuatkan keyakinan bakal bukti Ilahi, keteladanan, & perhatian pada makhluknya & alam semesta, niscaya melahirkan satu kata yg teramat indah : cinta! 

Kekuatan hawa yg menggoda & membujuk terhadap alam yg fana, dipadamkan ditukar dgn rasa cinta yg amat sangat mendalam pada Allah. Cahaya cinta yg dilahirkan iman tersebut bakal terus cemerlang selagi kalbu diberikan penyucian yg kontinu lewat zikrullah. 

Cinta ialah totalitas perhatian & perbuatan yg cuma memenuhi rangkaian, "dari dalam & menuju" Allah semata-mata. Penyerahan semua hasrat, gerak kehidupan, pengorbanan, bahkan tebusan kematian sekalipun cuma buat Allah Yg Maha Berlimpah Cinta-Nya sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-An'aam. 162. 

Manusia tercipta sebab cinta, hidup di dalam cinta, & mati dgn cinta. Seluruhnya pikiran & bermacam argumen hidup kehilangan kekuatannya dalam cinta. &, manusia tak lain mesti menampilkan dirinya yang merupakan pembawa pelita cinta tersebut. 

Dengan Cara etimologis, sudah tidak sedikit orang yg berspekulasi asal kata cinta (hubb) tersebut. Ada yg menyampaikan bahwa hubb merupakan cinta yg paling murni & rasa kasih sayang, lantaran orang Arab mengemukakan mengenai gigi yg paling putih dgn sebutan hababul-asnan. 

Dikatakan pula sbg hubab juga sebagai gelembung air, maka cinta (mahabbah) berarti waktu menggelembungnya hati kala ia haus & berputus asa buat berjumpa dgn kekasihnya. Dinamakan juga dgn hababul-ma, adalah permukaan air yg tertinggi. 

Maka, cinta disebut mahabbah lantaran dirinya yakni kepedulian yg paling tinggi dari hati, perhatian paling tinggi yang tak tertandingkan dari semua gerak kehidupan manusia yg dipersembahkan pada yg dikasihinya. 

Dapat juga diambil dari kata ahabba buat menggambarkan seekor unta yg berlutut & menolak utk bangkit lagi. Sehingga begitu pun sang pencipta (muhibb) tak dapat menggerakkan hadnya menjauhi dari mengingat kekasihnya (mahbub) . 

Pokoknya, cinta yaitu sikap satu orang yg mengutamakan sang kekasih diatas seluruhnya yg dikasihi.(Al-Qusairi, 324). Cinta (hubb) membutuhkan pembuktian. Bukan cuma sekadar merenung-renung, setelah itu menyingkirkan diri dari segala tantangan zaman. 

Cinta bakal ia rasakan nikmatnya disaat ia menghadapi dera-debu dunia yg mengepul & menantangnya. Cinta jadi berbinar saat ia dapat menundukkan segala gejolak dunia. Selanjutnya, bersama cinta itu, ia hiasi dunia dalam dekapan amal prestatif yg memberikan manfaat Cinta mendorong ia buat menampilkan sosok wajah makhluk Tuhan yg rendah hati, namun penuh arti. 

Karenanya, dgn pembuktian itulah cintanya teruji. Dikarenakan, ia sadar bahwa sungguh jauh lebih susah lagi menundukkan udara disaat ia terjun di medan laga dunia yg berdebu bersama-sama dgn orang lain, sama seperti diucapkan oleh Al-Junaid, "Kesulitan dalam uzlah lebih gampang diatasi ketimbang kesenangan berada dalam kebersamaan dgn orang lain." 

Sementara, Al-Qusairi mencatat, "Siapakah orang arif itu ?" Mereka menjawab, "Orang yg dekat & pada waktu yg sama ia yakni orang yg jauh." Artinya, bersama dgn sesama manusia dengan cara lahiriah & berada jauh dari mereka dengan cara batiniah." (Al-Qusairi, 19) Cinta yg dilahirkan dari kerinduan & kesadaran iman yg benderang tidaklah menafikan kedatangan manusia di sekitarnya. 

Tak pun menjauhkan ianya dari gelanggang perjuangan menundukkan dunianya, justru bersama pedang cintanya itu, ia menebas segala tiran & sosok wajah setan yg menampakkan bentuknya dalam diri manusia. Ia sampaikan risalah tidak dengan rasa takut terhadap siapa pun. 

Dikarenakan, rasa takut cuma apabila dirinya berbuat melanggar apa yg Dilarang-Nya. "(Adalah) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut Kepada-Nya & mereka tak takut kepada seseorang pun terkecuali Allah. & cukuplah Allah juga sebagai Pembuat perhitungan."(Al-Ahzab : 39) 

Sehingga iman & cintanya itu, segala kesombongan rasa dengki & dendam lenyap diterpa cahaya ilahi yg memenuhi kalbunya. Tak ada lagi area sedikit pun utk menyisakan bilik kalbunya buat hawa yg mengambil kondisi alam dunia yg rendah. Bagaikan pesona yang menyedot seluruhnya partikel & debu-debu besi, begitulah gelora cinta terhadap Ilahi. 

Nama Allah dgn segala Sifat-Nya sudah menjadikan dia terperangkap nikmat dalam situasi keterpesonaan yg amat. Maka, segala niat & keinginan yg lain menginginkan Cinta-Nya, tak lagi menjadi perhatiannya. 

Bahkan, perlakuan apa saja yg diberikan oleh sang kekasihnya tak lagi peduli, asalkan cinta sang kekasih tak berpaling dari haus dahaga pemenuhan kerinduan diri Kepada-Nya. Syair Rabi'ah Al-Adawiyah menampakkan satu orang pencinta sejati, layaknya dendang seloka batinnya yg merintihkan satu buah doa angan-angan tiada terperi, 


"Ya Allah, apa juga yg Engkau bakal karuniakan kepadaku didunia ini, berikanlah pada musuh-musuhku. &, apa pula yg Engkau karuniakan untukku sehingga berikanlah pada rekan Sebab bagiku, cukuplah Engkau pemenuh dahagaku." 

Bagi Rabi'ah Al-Adawiyah, kepedulian & hasrat yg memuncak hanyalah terhadap terpenuhinya rasa rindunya terhadap Allah, limpahan cinta. Allah sudah memalingkannya dari kebutuhan yang lain. Tak ada lagi waktu buat membenci & mengurusi musuh-musuhnya dikarenakan dia sudah terpikat terhadap Allah. Dirinya tak lagi bicara soal pahala & balasan duniawi kecuali cukuplah Engkau bagiku ! 

Keterpesonaannya terhadap Allah tak memberikan area kosong di kalbunya buat diisi tidak hanya Allah. Satu Orang tanya kepadanya, "Apakah engkau benci pada setan ?" Dia menjawab, 'Tidak. Cintaku pada Allah tak meninggalkan area kosong dalam diriku utk rasa benci kepada setan." 

Begitu pula dalam elemen pengabdiannya pada Allah. Bagi Rabi'ah, bukanlah utk mendapati surga atau menjauhi neraka. Keterpesonaannya menafikan kemauan itu seluruhnya kecuali cinta Allah kepadanya. 

Inilah syair yg merefleksikan kedahsyatan kalbu yg terpikat & menggemuruhkan semua relung dada satu orang Rabi'ah Al-Adawiyah. 

Saya Mencintai-Mu dgn dua cinta Cinta lantaran diriku & cinta lantaran Diri-Mu. Adapun cinta dikarenakan diriku adalah keadaanku selalu Mengingat-Mu Adapun cinta lantaran Diri-Mu Yaitu Keadaan-Mu mengungkapkan tabir maka Engkau kulihat Wujud apa juga pujian itu, bukanlah tertuju untukku Namun segala puji cuma Untuk-Mu Buah hatiku, cuma Engkaulah yg kukasihi Berikanlah Ampunan-Mu pada mereka yg berdosa Engkaulah harapanku, kebahagiaan, & kesenanganku Hatiku sudah malas mencintai yg selain Engkau Sungguh, ketahuilah Saya mengabdi terhadap Tuhanku bukan sebab takut neraka Bukan pun dikarenakan berharap nikmatnya masuk surga Namun saya mengabdi, lantaran cintaku semata-mata Kepada-Nya Ya Allah, jikalau saya mengabdi Kepada-Mu, dikarenakan takut neraka Bakarlah diriku di dalamnya & bila saya mengabdi Kepada-Mu, lantaran berharap surga Sehingga jauhkan surga dariku Lantaran saya mengabdi Kepada-Mu, cuma Engkau belaka Jangan Sampai Engkau palingkan diriku utk memandang keindahan Wajah-Mu..

Tapi, cinta tidak dengan rasa cemburu (ghairah) ialah kemustahilan. Kecemburuan yakni energi batiniah yg mau menafikan atau membentengi dari segala elemen yg lain (ghayr). Tak ada satu ruang juga di dalam kalbunya buat berikan kehidupan tidak cuma cintanya terhadap Allah. 
Sifat cemburu seperti itu yg menyebabkan seseorang hamba tak ingin bersekutu dgn terkecuali Kekasihnya. Sekian Banyak waktu saja kalbu berikan ruangan utk lainnya niscaya ia sudah berkhianat kepada Sang Kekasihnya. 

Maka, rasa cemburu sudah membangkitkan semangat yg tiada tara buat menggalang segala kapabilitas diri biar jadi satu benteng yg kokoh (kalbunyanum marsus). Kalbu yg dinyalakan oleh api yg cemburu itu mesti bersih dari segala debu-debu penghambaan duniawi, kalbu mesti terpelihara dari segala penyakit yg melumpuhkan gerak batinnya yg melangit. 

Diriwayatkan oleh Abdullah Bin Mas'ud bahwa Rasulullah bersabda, 'Tidak ada yg lebih pencemburu daripada Allah SWT. Salah satu tanda Cemburu-Nya yakni bahwa Ia melarang aksi keji, baik yg terlihat maupun yg tersembunyi." (Al-Hadits) 

Diriwayatkan pula oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Allah itu pencemburu, mukmin itu pencemburu. Cemburunya Allah merupakan sifat yg muncul bilamana hamba yg beriman lakukan apa yg sudah Dilarang-Nya." (Al-Hadits) 

Bersabda serta Rasulullah saw., "Sesunguhnya, Sa'ad yakni orang yg tidak sedikit cemburunya & saya (Nabi Muhammad saw.) yaitu lebih cemburu daripada Sa'ad, sedangkan Allah lebih cemburu lagi daripada saya (khawatir Hamba-Nya berbuat maksiat)." (HR Bukhari & Muslim) 

Jika Allah & Rasul-Nya memiliki rasa cemburu buat menjaga hamba & pengikutnya dari aksi keji, lantas kecemburuan seperti apa yg mesti dinyalakan di hati seseorang hamba biar kalbunya terbebaskan dari hawa?. Sehingga dgn berzikir itulah, ia bakal dapat membersihkan semua serat kalbunya, maka layak mendapati sapaan dari Allah SWT ; 

"Qad aflaha man zakkaha' sungguh beruntunglah orang yg menyucikan diri." & mereka yg selalu mendawamkan zikir ke pada Sang Kekasih dapat menumbuhkan kecemerlangan kesucian jiwa, yg nanti cahaya kalbunya berbinar-binar menumbuhsuburkan ketajaman mata batin (bashirah). 

Jiwanya jadi amat sensitif, maka bashirah-nya bisa membaca segala wujud bisikan setan. & faktor ini, dilakukannya dengan cara dawam (continyu) maka membekas dihatinya satu keyakinan yg tidak ada tara hingga maut menjemputnya. 'Dan, sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu yg diyakini (ajal)."(Al-Hijr : 99) 

Cinta terhadap-Nya, Pemilik segala khazanah cinta, niscaya dapat melahirkan keberanian & keberanian yg melecutnya maka segala sifat keburukan hewani yg memburu kenikmatan jasadi & hembusan setan yg menawari ilusi, bakal luluh-lantak dilanda cintanya yg menggelegak. 

Sikap seperti inilah yg menyebabkan lumpuhnya hawa bagaikan tunduknya kuda liar yg binal meronta selanjutnya taat terhadap perintah tuannya. Satu Orang yg didera fitnah & prasangka, beliau tersingkir dari kejahilan masyarakatnya yg sudah dipeluk amarah setan. Ditambah pula dgn terpaan kemiskinan yg menggigit, dapat guncang bimbang lantaran ada Sang Kekasih yg tidak sempat mengingkari janjinya (mi'aad). 

Hamba tersebut berlari bersama linangan air mata. Bukan lantaran tercabiknya jiwa sebab deraan fitnah & kemiskinan, melainkan rasa cemburunya yg menjulang, takut kalau fitnah & kemiskinan yg menerpa dia menyebabkan lokasi kalbunya terisi oleh selain-Nya. Sebab rasa cintanya itu, potensi shadr-nya melebar melebihi porsinya yg ada. Shadr mengetuk kalbunya & berbicara, "Fitnah manakah yg lebih fitnah kecuali fitnahnya akhirat ?" 

Kemiskinan seperti apakah yg paling miskin kecuali kemiskinan akhirat ?. Ketukan shadr yg diikat oleh fuad menyemburat dari kalbunya utk menatap kehidupan dunia dgn kalem, betapapun baranya yg menyengat, dirinya serentak diingatkan, apakah yg paling membara kecuali neraka Jahannam. 

Bagikanlah cerita ini buat sahabat-sahabatmu yang sedang menggeloranya cintanya untuk kekasih hatinya sehingga mampu 'Menyalakan Pelita Kalbu Dengan Cinta' yang sesungguhnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel